BPH Pembesaran Prostat Jinak (Benign Prostatic Hyperplasia)

0
182
bph pembesaran prostat jinak
BPH pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia

Benign Prostatic Hyperplasia atau BPH pembesaran prostat jinak. Jadi, ini tidak berkaitan dengan kanker prostat. BPH adalah suatu keadaan dimana kelenjar prostat mengalami pembesaran. Dampaknya adalah ketidaklancaran aliran urin sehingga membuat buang air kecil menjadi tidak tuntas atau puas.

BPH (Pembesaran Kelenjar Prostat Jinak)

Apa Itu Prostat? Prostat adalah kelenjar berukuran sebesar kacang kenari yang memiliki peranan dalam sistem reproduksi pria. Kelenjar ini berada di rongga panggul di bawah kandung kemih.

Kelenjar prostat ini hanya dipunyai oleh kaum adam. Oleh sebab itu, penyakit BPH hanya diderita oleh lelaki. Pada umumnya semua pria mengalami pembesaran kelenjar prostat, khususnya yang telah berumur lebih dari 60 tahun. Namun, tidak semua yang merasakan gejala gangguan berkemih atau menimbulkan masalah kesehatan.

Disarankan kepada lelaki berusia di atas 60 tahun untuk memeriksakan prostat nya ke dokter secara rutin, khususnya bila telah mengalami masalah berkemih. Bila tidak ditatalaksana dengan baik maka justru akan mengganggu kinerja dan fungsi kandung kemih dan ginjal.

Gejala Prostat BPH

Derajat parahnya penyakit BPH ini akan berbeda pada setiap pasien, tapi biasanya akan terus memburuk seiring dengan waktu. Gejala yang utama adalah adanya gangguan dan masalah pada proses berkemih, seperti:

  • Susah mengeluarkan urin di awal proses berkemih,
  • Dibutuhkan pengejanan ketikan buang air kecil (BAK),
  • Aliran dan pancaran urin lemah,
  • Urin menetes di akhir BAK,
  • Proses berkemih dirasakan tidak tuntas,
  • Frekuensi BAK di malam hari semakin tinggi, dan/ atau
  • Beseran atau inkontinensia urin, pada kondisi tertentu bisa menimbulkan retensi urin (urin tidak bisa keluar sama sekali).

Disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter bila mengalami hal-hal di atas. Hal ini untuk mengetahui apakah ada masalah kesehatan yang serius yang di alami. Semakin menunda-nunda ke dokter maka kelenjar prostat akan semakin membesar. Dokter akan membantu untuk menentukan diagnosis penyakit apakah BPH atau penyakit dengan gejala yang hampir sama, semisal infeksi saluran kemih, batu pada kandung kemih atau ginjal, hingga kanker prostat atau kandung kemih.

Penyebab Pembesaran Prostat Jinak

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan terjadinya pembesaran kelanjar prostat yang bersifat jinak ini. Namun, keadaan seperti ketidakseimbangan hormon seksual seiring dengan bertambahnya umur dianggap berkaitan dengan kejadian penyakit ini.

Sebagian besar lelaki akan mengalami pembesaran prostat ini. Ketika ukuran pembesaran telah mampu menekan saluran uretra maka disitulah mulai muncul gejala. (Uretra adalah saluran yang menghubungkan kandung kemih dengan lingkungan luar). Selain itu, ada bermacam faktor yang diduga akan menaikkan risiko individu mengalam BPH, antara lain:

  • Umur lebih dari 60 tahun,
  • Kurang intensitas dalam olahraga,
  • Berat badan berlebih hingga obesitas,
  • Penderita penyakit jantung dan diabetes mellitus,
  • Kerap konsumsi obat-obatan jenis beta blocker (penghambat beta), semisal captopril, dan/ atau
  • Punya riwayat anggota keluarga yang menderita BPH atau masalah prostat lainnya.

Diagnosis BPH (Benign Prostatic Hyperplasia)

Untuk menegakkan diagnosis apakah seseorang menderita BPH, dokter biasanya akan menanyakan dan mendalami gejala yang dirasakan oleh pasien. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan colok dubur. Pemeriksaan ini untuk menentukan apakah ada pembesaran prostat, berapa besarnya, bagaimana konsistensi dan keadaan permukaannya.

Kemudian, dapat juga diikuti oleh pemeriksaan lainnya, seperti:

  • USG prostat untuk mengetahui ukuran kelenjar prostat.
  • Tes urin untuk menentukan apakah ada keterlibatan infeksi atau kondisi kesehatan lainnya berkaitan dengan keluhan yang dialami.
  • Uji darah untuk memastikan apakah ada kemungkinan masalah pada ginjal.
  • Tes kadar antigen (PSA) di dalam darah. PSA secara normal diproduksi oleh prostat. Bila kelenjar mengalami pembesaran maka biasanya kadar PSA di dalam darah juga akan ikut meningkat atau setidaknya mengalami gangguan.
  • Uji biposi dengan mengambil sampel jaringan prostat untuk menentukan apakah ada kemungkinan kanker prostat. Ini hanya dilakukan bilamana dokter memiliki dugaan kuat bahwa pasien menderita kanker prostat.
  • Sistoskopi yaitu memasukkan selang berkamera ke saluran kemih untuk menentukan keadaan uretra dan kandung kemih.

Info Coding Diagnosis BPJS Kesehatan: Kode ICD 10 BPH

Pengobatan BPH Pembesaran Prostat Jinak

Pengobatan pembesaran kelenjar prostat berbeda-beda bergantung kepada umur, keadaan medis pasien, ukuran dan jenis pembesaran prostat, dan derajat keparahan gejala yang dialami. Namun, secara umum metode yang diterapkan kepada pasien BPH adalah sebagai berikut.

Perawatan Mandiri

  • Bilamana gejala yang dirasakan bersifat ringan maka biasanya pasien bisa menangani secara mandiri. Hal-hal yang dapat dilakukan yaitu:
  • Hindari minum air putih atau yang lainnya sewaktu 1 atau 2 jam hendak tidur.
  • Menjauhi konsumsi minuman yang memiliki kandungan alkohol dan kafein.
  • Menggunakan obat pilek semisal dekongestan dan antihistamin seperlunya.
  • Tidak membiasakan menunda dan menahan-nahan BAK.
  • Membiasakan pola berkemih setiap 4 sampai 6 jam sekali.
  • Mempertahankan berat badan ideal dengan menerapkan pola hidup yang sehat.
  • Disiplin dalam berolahraga, termasuk rutin dalam melaksanakan senam Kegel.
  • Stress dikelola dengan baik.

Obat-Obatan

Bilamana pengobatan secara mandiri seperti yang telah dirincikan di atas tidak lagi bisa mengurangi gejala maka dokter biasanya akan mulai memberikan terapi dengan menggunakan obat-obatan. Beberapa yang biasanya diberikan antara lain:

  • Alfa blocker (penghambat alfa), contohnya tamsulosin untuk memudahkan proses berkemih.
  • Penghambat 5-alfa reduktase, semisal finasteride atau dutasteride yang bertujuan untuk mengurangi ukuran prostat.

Beberapa penelitian dan studi juga menunjukkan bahwasanya penggunaan obat disfungsi ereksi semisal tadalafil juga dapat dipakai untuk mengurangi pembesaran prostat.

Operasi

Bila setelah dua metode di atas dilaksanakan, akan tetapi gejala yang dirasakan masih mengganggu maka direkomendasikan prosedur operasi. Beberapa metode dan teknik operasi yang biasa dilakukan antara lain:

Transurethral resection of the prostate (TURP)
TURP adalah metode operasi yang paling sering diterapkan. TURP bertujuan untuk mengangkat jaringan prostat yang berlebihan. Teknik ini akan mengambil jaringan prostat yang menimbulkan sumbatan secara sedikit demi sedikit. Teknik TURP ini akan menggunakan alat khusus yang dimasukkan melalui lubang tempat kemih.

Transurethral incision of the prostate (TUIP)
TUIP adalah metode operasi lainnya dengan tidak mengangkat jaringan prostat. Teknik ini dilakukan dengan membuat irisan kecil pada kelenjar prostat agar aliran urin yang terhambat bisa mengalir kembali. Ini biasanya dilakukan pada BPH dengan derajat pembesaran kecil hingga sedang.

Metode Operasi Lainnya
Selain beberapa metode di atas, jaringan prostat yang menyumbat bisa juga dibakar. Teknik ini memanfaatkan sinar laser untuk membakar jaringan prostat berlebih melalui operasi terbuka. Selain itu, prostat juga bisa diangkat melalui operasi terbuka juga (prostatektomi). Ini biasanya dilakukan bilamana ukuran prostat sudah terlampau besar atau kandung kemih sudah mengalami kerusakan.

Komplikasi

Pembesaran prostat jinak yang tidak ditangani dapat menyebabkan sejumlah komplikasi serius, yaitu:

  • Infeksi saluran kemih,
  • Penyakit batu ginjal atau kandung kemih, (Kode ICD 10 Batu Ginjal)
  • Tidak bisa buang air kecil, dan/ atau
  • Kerusakan kandung kemih dan ginjal.

Pencegahan Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Perlu dipahami bahwasanya penyakit ini tidak bisa dicegah. Mengapa? Oleh karena pembesaran kelenjar ini merupakan hal yang wajar pada kaum lelaki. Usaha pencegahan hanya bisa diterapkan pada gejala yang timbul. Beberapa diantaranya telah disebutkan dalam perawatan mandiri di atas.

Dianjurkan untuk sesegera mungkin ke dokter bila mengalami salah satu tanda atau gejala yang telah dijabarkan di atas. Hal ini juga termasuk usaha untuk mecegah timbulnya gejala parah yang dapat mengganggu kualitas hidup.

  • Sumber:
    • Danielle, et al. (2016). Benign Prostatic Hyperplasia: A Clinical Review. Journal of the American Academy of Physician Assistants.
    • Wu, Y., Davidian, M., & DeSimone, E. (2016). Guidelines for the Treatment of Benign Prostatic Hyperplasia.
    • Mayo Clinic (2019). Diseases & Conditions. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here