Home General Obat Methylprednisolone atau Metilprednisolon

Obat Methylprednisolone atau Metilprednisolon

0
18

Bahasan lengkap obat methylprednisolone atau metilprednisolon. Artikel ini akan membahas tentang methylprednisolone adalah obat obat untuk apa? Berapa dosis metilprednisolon nya? Apa saja indikasi dan kontraindikasi serta efek samping obat? Perlu dipahami bahwa tulisan ini sebagian besar bermuatan medis, akan tetapi masih bisa dibaca oleh awam. Yuk di simak

Review Obat Methylprednisolone ataupun Metilprednisolon

Methylprednisolone atau metilprednisolon adalah obat yang digunakan untuk penyakit-penyakit dengan peradangan, semisal lupus, multipel sklerosis, rematik, psoriasis, kolitis ulseratif, dan penyakit Crohn. Selain itu, obat ini juga dipakai untuk mengurangi reaksi alergi, contohnya asma dan dermatitis alergi.

Obat metilpredinosolon ini bekerja dengan cara memberi penekanan pada sistem imunitas sehingga tubuh tidak bisa melepaskan senyawa kimiawi yang menimbulkan peradangan.

Methylprednisolone adalah obat turunan dari glukokortikoid prednisolon dengan potensi yang lebih besar dari prednison. Obat ini disetujui untuk digunakan olej FDA pada tanggal 24 Oktober 1957.

Dalam pandemi COVID-19 ini , terapi berbasis metilprednisolon dosis rendah didapatkan berhasil dalam pengobatan penyakit pneumonia terkait COVID-19 pada satu pasien dengan imunosupresi jangka panjang. Keberhasilan ini perlu diselidiki lebih lanjut dalam studi dan uji klinis.

Sediaan Obat Metilprednisolon

Obat ini memiliki 4 bentuk sediaan, yaitu tablet, suspensi untuk suntikan, bubuk untuk injeksi, dan krim atau salep. Rincian kandungannya, antara lain:

  • Tablet
    • 2 mg
    • 4 mg
    • 8 mg
    • 16 mg
    • 32 mg
  • Suspensi untuk suntikan
    • 20 mg/mL
    • 40 mg/mL
    • 80 mg/mL
  • Bubuk untuk injeksi
    • 40 mg
    • 125 mg
    • 500 mg
    • 1 gr
    • 2 gr

Daftar Nama Merek Dagang Obat Methylprednisolone Paten

Nama Merek Dagang Obat Methylprednisolone Paten
   
Adixon   
   
Grason   
   
Mequalon   
   
Phadilon   
   
Stenirol   
   
Carmeson   
   
Hexilon   
   
Mesol   
   
Prednicort   
   
Thimelon   
   
Comedrol   
   
Iflaz   
   
Metasolon   
   
Prednox   
   
Tisolon   
   
Cortesa   
   
Intidrol   
   
Metcor   
   
Pretilon   
   
Tison   
   
Depo   Medrol   
   
Inxilon   
   
Methylon   
   
Prolon   
   
Toras   
   
Dipasolon   
   
Lameson   
   
Methylprednisolone   
   
Rhemafar   
   
Tropidrol   
   
Ersolon   
   
Lexcomet   
   
Metidrol   
   
Sanexon   
   
Urbason   
   
Flameson   
   
Mecosolon   
   
Metisol   
   
Simdrol   
   
Vadrol   
   
Flason   
   
Medixon   
   
Metrison   
   
Solfion   
   
Xilon   
   
Fumethyl   
   
Medrol   
   
Nichomedson   
   
Solu   Medrol   
   
Yalone   
   
Gamesolone   
   
Meprilon   
   
Novestrol   
   
Somerol   
 
   
Glomeson   
   
Meproson   
   
Ometilson   
   
Sonicor   
 

Kegunaan Obat Methylprednisolone

Apa saja kegunaan methylprednisolone ini dalam dunia kedokteran? Lihat rinciannya fungsi obat methylprednisolone di bawah ini:

  • Fungsi methylprednisolone oral dan intramuskular adalah untuk mengatasi beberapa kelainan endokrin, rematik, kolagen, dermatologis, alergi, oftalmik, pernapasan, hematologi, neoplastik, edematosa, gastrointestinal, sistem saraf, dan lainnya.
  • Manfaat methylprednisolone suntikan intra-artikular dan pada jaringan lunak tubuh berguna untuk pengobatan jangka pendek artritis gout akut (asam urat akut), bursitis akut dan subaktut (peradangan pada pelumas dan bantalan sendi), tenosinovitis nonspesifik akut (peradangan selubung tendon), epikondilitis (radang area siku), artritis reumatoid, dan sinovitis osteoartritis.
  • Indikasi methylprednisolone suntikan intralesi ialah untuk alopecia areata (penyakit kebotakan akibat autoimun), lupus eritematosus diskoid, keloid, lichen planus, lichen simpleks kronik dan plak psoriaris, nekrobiosis lipoidica diabeticorum, dan lesi inflamasi granuloma annulare yang diinfiltrasi hipertrofik.

Farmakodinamik

Kortikosteroid ini mengikat reseptor glukokortikoid, menghambat sinyal pro-inflamasi, dan meningkatkan sinyal anti-inflamasi. Kortikosteroid memiliki jendela terapi yang luas sehingga pasien bisa mendapatkan dosis yang berlipat ganda dari apa yang diproduksi tubuh secara alami. Pasien yang memakai kortikosteroid harus diberi konseling mengenai risiko penekanan aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal dan peningkatan kerentanan terhadap terjadinya infeksi.

Mekanisme Aksi

Efek jangka pendek kortikosteroid adalah turunnya vasodilatasi, permeabilitas kapiler, dan migrasi leukosit ke area terjadinya peradangan. Kortikosteroid yang mengikat reseptor glukokortikoid memediasi perubahan ekspresi gen yang menyebabkan beberapa efek hilir selama berjam-jam hingga berhari-hari.

Glukokortikoid menghambat apoptosis dan demarginasi neutrofil; mereka menghambat fosfolipase A2, yang menurunkan pembentukan turunan asam arakidonat; mereka menghambat NF-Kappa B dan faktor transkripsi inflamasi lainnya; mereka mempromosikan gen anti-inflamasi seperti interleukin-10.

Dosis yang lebih rendah dari kortikosteroid memberikan efek anti-inflamasi, sedangkan dosis yang lebih tinggi bersifat imunosupresif. Glukokortikoid dosis tinggi untuk waktu yang lama mengikat reseptor mineralokortikoid, meningkatkan kadar natrium dan menurunkan kadar kalium.

Penyerapan
Oral methylprednisolone has 89.9% the bioavailability of oral methylprednisolone acetate, while rectal methylprednisolone has 14.2% the bioavailability. Intravitreal methylprednisolone has a Tmax of 2.5h. Approximately 1/10 of an oral or IV dose of methylprednisolone will reach the vitreous humor. Further data regarding the absorption of methylprednisolone are not readily available.
Distribusi
The average volume of distribution of methylprednisolone is 1.38L/kg

Protein Pengikat
Methylprednisolone is 76.8% protein bound in plasma and does not significantly bind to corticosteroid binding protein. Methylprednisolone is bound to human serum albumin in plasma.

TOksisitas
The oral LD50 in rats is >4g/kg. The intraperitoneal LD50 in mice is 2292mg/kg and in rats is 100mg/kg.

Data regarding acute overdoses of glucocorticoids are rare. Chronic high doses of glucocorticoids can lead to the development of cataract, glaucoma, hypertension, water retention, hyperlipidemia, peptic ulcer, pancreatitis, myopathy, osteoporosis, mood changes, psychosis, dermal atrophy, allergy, acne, hypertrichosis, immune suppression, decreased resistance to infection, moon face, hyperglycemia, hypocalcemia, hypophosphatemia, metabolic acidosis, growth suppression, and secondary adrenal insufficiency. Treat acute overdoses with symptomatic and supportive therapy, while chronic overdoses will require temporarily reduced dosages

Dosis Methylprednisolone Anak dan Dewasa

  • Dosis tablet minum oral secara umum
    • Dosis dewasa: 2 – 60 mg tiap hari. Pemberian obat dilakukan setiap 6-24 jam. Penggunaan dosis ini disesuaikan dengan tipe penyakit dan keadaan pasien.
    • Dosis anak: 0,5-1,7 mg/ kgBB tiap hari. yang dibagi menjadi 2-4 kali pemberian.
  • Dosis injeksi (suntikan) secara umum
    • Dosis Dewasa: 10-500 mg dalam 1 hari.
    • Dosis anak: 0,5-1,7 mg/ kgBB dalam 1 hari yang dibagi menjadi 2-4 kali pemberian.
  • Dosis metilprednisolon untuk pengobatan reaksi alergi dan penyakit asma
    • Dosis Dewasa oral: 4-24 mg dalam 1 hari.
    • Dosis injeksi dewasa: 40 mg per hari. Dosis diberikan sesuai dengan respon dari tubuh.
    • Dosis suntikan anak: 1-4 mg/kgBB dalam 1 hari.
  • Dosis metilprednisolon untuk keadaan ruam kulit atau peradangan kulit
    • Dosis dewasa dan anak: oleskan 1-3 kali sehari krim yang mengandung metilprednisolon pada area yang mengalami masalah.

Efek Samping Methyprednisolone

Obat ini juga memiliki potensi menimbulkan efek samping. Beberapa diantaranya:

  • Rentan terkena penyakit infeksi
  • Peningkatan kadar gula di dalam darah
  • Menimbulkan mual dan muntah
  • Nyeri pada kepala
  • Menyebabkan berkurangnya nafsu makan
  • Kesulitan untuk tidur
  • Keringat berlebihan
  • Penyakit maag dan asam lambung naik.
  • Nyeri pada otot-otot
  • Gangguan pada emosi, mood dan suasana hati.

Selain itu, dampak buruk yang cukup serius bisa terjadi meskipun sangat jarang terjadi. Beberapa diantaranya:

  • Penurunan berat badan secara tiba-tiba
  • Bengkak pada tangan dan pergelangan kaki.
  • Mudah mengalami memar
  • Masalah irama pada jantung
  • Gangguan penglihatan
  • Muntah dan/ atau buang air besar berdarah.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here