SOP Tonsilitis (Panduan Diagnosa dan Tatalaksana di Puskesmas)

0
1034
sop tonsillitis
Cotoh gambar penyakit tonsilitis

Standar operasional prosedur atau SOP tonsilitis. Ini bisa menjadi panduan dalam proses diagnosa dan tatalaksana penyakit peradangan dan infeksi tonsil di puskesmas. Yuk disimak!

Panduan dan SOP Tonsilitis

Logo
Kabupaten
Diagnosis dan Penatalaksanaan Tonsilitis
SOP

No. Dokumen
No. Revisi
Tanggal Penerbitan
Halaman
gambar lambang logo puskesmas
Nama
Kabupaten
Kepala Puskesmas XYZ

(nama kapus)
(NIP kapus)
1. PengertianPenyakit tonsilitis adalah peradangan pada tonsil palatina. Tonsil ini adalah bagian dari cincin Waldeyer yang merupakan susunan kelenjar limfe di rongga mulut. Bagian lengkapnya yaitu tonsil faringeal (adenoid), palatina (faucial), lingual (di area pangkal lidah), dan tuba Eustachius (lateral dinding faring atau tonsil Gerlach).

No. ICPC II : R76 Tonsillitis acute
No. ICD 10 : Acute tonsillitis, unspecified (Kode ICD 10 Tonsilitis Kronis)
2. TujuanSOP tonsilitis ini sebagai acuan diagnosa dan tatalaksana penyakit tonsilitis
3. ReferensiPERMENKES No. 5 tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis Dokter di Fasilitas Pelayanan Primer.
4. Prosedural1. Peralatan dan Bahan
Head lamp
• Tongue Spatula
• Lidi kapas
• Termometer

2. Hasil Anamnesis (Subjektvitas)
Pasien biasanya datang dengan keluhan sakit pada tenggorokan. Keluhan dan gejala lain akan bergantung pada penyebab tonsilitis tersebut.
2.a. Tonsilitis akut biasanya berawal dari tenggorokan terasa kering lalu lama-kelamaan menjadi nyeri terutama saat proses menelan. Perasaan nyeri ini seringkali menyebabkan pasien anak menjadi tidak nafsu makan. Nyeri saat menelan yang hebat (atau ptialismus) ini juga membuat pasien tidak mau menelan sehingga ludah tertumpuk di rongga mulut.

Nyeri ini bisa beralih ke area sendi-sendi wajah dan telinga. Sakit pada telinga ini disebarkan melalui saraf nervus glosofaringeal (nervus kranial ke-9).

Keluhan lain bisa berupa demam yang tinggi. Oleh karena demam tinggi ini, beberapa anak bisa menjadi kejang. Selain itu, akan dirasakan sakit kepala, badan letih lesu, dan kurangnya nafsu makan.

Suara pasien bisa terdengar seperti mulut terisi penuh oleh makanan yang panas atau disebut dengan hot potato voice atau plummy voice. Mulut akan menjadi berbau (fotor ex ore) dan tertumpuk nya ludah

Pada tonsilitis akibat infeksi virus, gejala yang timbul akan seperti penyakit common cold yang diiringi oleh sakit pada tenggorokan.

2.b. Tonsilitis kronis biasanya akan menimbulkan gejala ada benda yang mengganjal di pangkal tenggorokan. Selain itu, area tenggorokan akan sering dirasakan kering dan nafas menjadi berbau (atau halitosis).

2.c. Pada penyakit angina plaut vincent (stomatitis ulseromembranosa), gejala yang ada ialah demam tinggi (dapat lebih dari 39 derajat celsius), sakit pada mulut, tenggorokan, gigi, dan kepala. Gusi akan mudah sekali mengalami perdarahan dan terjadi hipersalivasi.

3. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang (Objektivitas)
3.a Pemeriksaan Fisik
3.a.1. Pada Tonsilitis Akut
Ditemukan tonsil yang bengkak dan udem, hiperemis, danya detritus di permukaan tonsil yang bisa berbentuk lakuna, pseudomembran, atau folikel.

Tonsilitis akut dengan penampakan detritus yang jelas dikenal sebagai tonsilitis folikularis. Bilamana bercak detritus ini bersatu maka akan membentuk alur yang disebut dengan tonsilits lakunaris. Bercak yang menutupi ruangan antar dua tonsil disebut dengan psudomembran (membran semu).

Selain itu, palatum mole, arkus anterior dan posterior yang berada di sekitar tonsil akan mengalami oedema dan hiperemis. Kelenjar submandibula (terletak di belakang angulus mandibula) juga akan mengalami pembesaran dan nyeri bila ditekan.

3.a.2. Pada Tonsilitis Kronis
Akan didapatkan tonsil yang membesar dengan permukaan tidak rata, kriptus melebar dan diisi dengan detritus. Selain itu, juga memungkinkan ditemukan tonsil yang lengket dan pembesaran kelenjar getah bening submandibula. Dua tanda minimal yaitu pelebaran kriptus dan pembesaran KGB submandibula sudah cukup menunjukkan keadaan tonsilitis kronik.

3.a.3. Tonsilitis difteri
Biasanya didapatkan tonsil yang membengkak yang diselubungi oleh bercak putih kotor sehingga membentuk membran palsu. Pseudomembran ini cukup melekat ke bagian dasar dan akan mudah berdarah bila diangkat.

3.a.4. Pembagian Gradasi Pembesaran Tonsil
T0: tonsil masuk di dalam fossa atau telah dialkukan pengangkatan (tonsilektomi).
T1: Volume tonsil <25% dari volume orofaring atau batas medial tonsil melewati pilar anterior sampai ¼ jarak pilar anterior uvula.
T2: Volume tonsil 25-50% dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial tonsil melewati ¼ jarak pilar anterior-uvula sampai ½ jarak pilar anterior-uvula.
T3: Volume tonsil 50-75% dari volume orofaring atau batas medial tonsil melewati ½ jarak pilar anterior-uvula sampai ¾ jarak pilar anterior-uvula.
T4: Volume tonsil > 75% dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial tonsil melewati ¾ jarak pilar anterior-uvula sampai uvula atau lebih.

3.b. Pemeriksaan Penunjang:
Bilamana dibutuhkan, pemeriksaan pendukung yang dapat dilaksanakan, antara lain:
1. Darah lengkap
2. Swab tonsil
untuk pemeriksaan mikroskop menggunakan pewarnaan gram.

4. Penetapan Diagnosis dalam SOP Tonsilitis
Diagnosa klinis disimpulkan berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisikal. Pemeriksaan penunjang akan mendukung untuk menegakkan diagnosis definitif.

Klasifikasi Tonsilitis
a. Tonsilitis Akut
a.1. Tonsilitis viral
Jenis tonsil ini banyak diakibatkan oleh virus Epstein Barr. da jenis virus lain yaitu virus coxhakie. Bilamana virus ini yang menjadi penyebab maka tenggorokan akan sangat nyeri dirasakan. Hal ini dikarenakan akan menimbulkan luka kecil pada area palatum dan tonsil.

a.2. Tonsilitis bakterialis
Jenis ini banyak disebabkan oleh bakteri stereptococcus beta hemolitikus grup A, pneumokokus, Streptokokus viridan, dan streptokokus piogen. Selain itu, bakteri Haemophilus influenzae juga bisa menyebabkan tonsilitis akut yang supuratif. Proses supurasi ini adalah hasil peradangan dimana leukosit polimorfonuklear keluar sebagai detritus.

b. Tonsilitis Membranosa
b.1. Tonsilitis difteri
Jenis ini disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Mereka yang terinfeksi tidak semuanya akan menderita sakit karena tergantung dengan titer antioksidan di dalam darah. Titer sebanyak 0,03 sat/ cc bisa disebut memiliki dasar imunitas.

Gejala bisa bersifat umum, lokalis, dan gejala karena eksotoksin. Gejala yang umum berupa demam subfebril, sakit kepala, menurunnya nafsu makan, badan letih dan lemah, sakit tenggorokan pada saat menelan, denyut nadi melambat.

Gejala lokalis adalah tonsil yang bengkak yang diselubungi oleh pseudomembran yang akan mudah mengalami perdarahan bila diangkat. Pseudomembran ini juga bisa menyumbat saluran pernafasn bila meluas ke area laring. Gejala akibat eksotoksin adalah seperti miokarditis hingga menimbulkan dekom kordis, peradangan pada saraf kranial sehingga melumpuhkan otot pernafasan dan palatum, dan albuminuria pada kerusakan ginjal.

b.2. Tonsilitis septik
Jenis ini sering disebabkan oleh bakteri Streptococcus hemoliticus yang ada di susu sapi sehingga sering mencetuskan epidemi. Sejak susu sapi dimasak terlebih dahulu melalui metode pasteurisasi maka penyakit ini semakin jarang terjadi.

b.3. Angina Plaut Vincent (Stomatitis ulseromembranosa)
Tipe ini diakibatkan oleh kuman spirochaeta atau triponema yang biasanya terjadi pada individu dengan tingkat kebersihan mulut yang rendah dan kekurangan vitamin C.

b.4. Penyakit keganasan
Pembengkakan tonsil juga bisa sebagai hasil suatu penyakit keganasan, semisal limfoma malignum atau Ca. tonsil. Tonsil yang membesar biasanya tidak simetris.

c. Tonsilitis Kronik
Tipe tonsil ini muncul dikarenakan peradangan yang lama. Sumber peradangan bisa diakibatkan oleh zat rokok, makanan dan minuman tertentu, kebersihan mulut yang kurang, dampak cuaca dan iklim, keletihan fisikal, manajemen pengobatan tonsilitis akut yang tidak tepat.

5. Pengobatan dan Penatalaksanaan Komprehensif dalam SOP Tonsilitis
Penatalaksanaan:
Secara umum, tatalaksana berupa:
a. waktu istirahat cukup dan teratur,
b. konsumsi jenis makanan yang lunak dan menjauhi yang bisa menimbulkan iritasi,
c. meningkatkan tingkat higienitas dan kebersihan mulut,
d. penggunaan obat topikal berupa antiseptik kumur, dan
e. pemakaian obat oral sistemik.

Manajemen penatalaksanaan secara khusus bisa rincian di bawah ini, yaitu:
5.1. Tonsilitis viral
– menerapkan pola istirahat yang baik,
– makan dan minum cukup,
– pemberian analgetika,
– pemanfaatan antivirus bilamana gejala yang dirasakan berat. Antivirus yang bisa diberikan: etisoprinol (isoprenosine) dengan dosis 60-100 mg/ kgBB per 4-6 kali pemberian dalam 1 hari untuk orang dewasa; dan dosis 50 mg/ kgBB per 4-6 kali pemberian dalam 1 hari untuk anak di bawah 5 tahun.

5.2. Tonsilitis bakterialis
– Pemberian antibiotika, terutama yang disebabkan oleh kuman streptococcus group A yaitu – Penisilin G Benzatin dengan dosis 50.000 IU/ kgBB dosis tunggal secara intramuskular; atau Amoksisilin 50 mg/kgBB dalam 3 kali pemberian dalam 1 hari per oral selama 10 hari; atau eritromisin 4 x 500 mg dalam 1 hari.
– Pemberian kortikosteroid untuk mengurangi reaksi peradangan yaitu: Dexametason 3 x 0,5 mg untuk 3 kali pemberian selama 3 hari (dosis anak 0,01 mg/ kgBB untuk 1 hari selama 3 hari).

5.3. Tonsilitis difteri
– Diberikan Anti Difteri Serum diberi dengan dosis 20.000-100.000 unit (bergantung dengan usia dan jenis kelamin) sesegera mungkin tanpa menunggu hasil kultur.
– Penggunaan antibiotika yaitu penisilin atau eritromisin 25-50 mg/ kgBB untuk 1 hari.
– Pemanfaatan antipiretik untuk gejala simptomatis
– Mengisolasi pasien.
– Pasien tirah baring di tempat tidur dalam waktu 2-3 minggu.

5.4. Angina Plaut Vincent (stomatitis ulseromembranosa)
Diberikan antibiotika yang memiliki spektrum luas dalam waktu 1 minggu
Pemberian vitamin C dan B kompleks

5.5 Pengobatan Tonsilitis Kronis
Manajemen pengboatan tonsilitis kronik, antara lain:
a. Pemberian obat-obatan untuk gejala simptomatis.
b. Penggunaan obat topikal berupa desifektan kumur.
c. Tonsilektomi
Prosedur operasi tonsilektomi dilaksanakan bilamana:
c.1. Indikasi Absolut
– Bengkak pada tonsil menimbulkan obstruksi saluran nafas, disfagia yang berat, gangguan tidur, dan komplikasi kardiopulmonal.
– Abses di peritonsil tidak sembuh dengan penggunaan obat-obatan dan drainase abses.
– Tonsilitis yang sering mencetuskan serangan kejang demam.
– Tonsiliti yang perlu dibiopsi.

c.2. Indikasi Relatif
– Dialami 3 atau lebih episode tonsilitis dalam waktu 1 tahun walaupun telah diberikan antibiotika yang adekuat.
– Halitosis yang tidak kunjung hilang dengan pengobatan medis.
– Tonsilitis kronis berulang pada karies kuman streptokokus yang tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika laktamase resisten.

Konseling dan Edukasi
Memberi informasi kepada pasien dan keluarganya agar:
– Menjalani pengobatan yang adekuat karena kemungkinan kambuh cukup tinggi.
– Meningkatkan daya imunitas tubuh dengan pola makan sehat dan disiplin dalam berolahraga.
– Menjauhi kebiasaan merokok.
– Meningkatkan dan menjaga kebersihan mulut.
– Disiplin mencuci tangan dengan menerapkan langkah cuci tangan yang benar dan tepat.
– Menjauhi makanan dan minuman yang menjadi sumber iritan bagi tonsil.

6. Kriteria Rujukan
Pasien dipertimbangkan untuk dirujuk bilamana:
a. Timbul komplikasi tonsilitis akut semisal abses peritonsil, septikemia, demam rematik akut, glomeulonefritis, dan/ atau meningitis.
b. Mencukupi indikasi untuk dilakukan tonsilektomi.
c. Pasien yang mengalami tonsilitis difteri.
5. Unit pelaksana1. Poli umum
2. Laboratorium

Nah, itu tadi tabel yang berisi panduan atau SOP tonsilitis. Panduan ini berguna untuk pedoman penegakan diagnosa dan tatalaksana penyakit tonsilitis. Selain itu, juga berguna untuk melengkapi bahan administrasi akreditasi puskesmas.

Baca juga: SOP Varisela

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini